TW // SUICIDE

Aku terpaku melihat tubuh yang menggantung di langit-langit kamar berdinding putih pucat. Rasanya seperti tersedot ke dalam ruang hampa, rasanya seperti dunia ini musnah seketika.

Gemetar, aku berjalan perlahan ke arah tubuh itu. Berlutut meraih sebuah kertas yang terletak tepat di bawah kakinya. Kepalaku berkabut. Tulangku rasanya seperti dicabut. Dengan seluruh tenaga yang aku punya untuk tetap tersadar, aku membaca kata demi kata terakhir yang ditinggalkannya untukku.

“Radev… Radev… aku mohon… aku mohon… maafkan aku…”

Akulah si bodoh yang tidak pernah menyadari bahwa kekasihku menahan kejinya perundungan seorang diri, aku menatap sekujur tubuh ringkihnya yang terlihat bersih namun ternyata terdapat bekas-bekas yang ditimbulkan oleh manusia keji yang inginkan ia binasa.

Aku mencengkeram kertas itu hingga kuku menancap di telapak tanganku. Mataku kosong, aku tidak bisa berpikir lagi.

‘Di dunia yang penuh kegelapan ini, aku cuma punya kamu—kalau aku pergi, mungkin kamu bisa cari yang lain lagi. Tapi kalau kamu pergi, maka tidak bisa hidup di sini lagi— —Maka dari itu, Atma sayangku. Aku ingin menuju surga lebih dulu untuk membangun dunia kita berdua. Maafkan aku yang meninggalkanmu sendiri, ya?’

Cukup, cukup, CUKUP.

Suaraku gemetar, mulutku mengucap rapal-rapal kacau tak karuan.

“Oh Tuhan, Tuhan manapun yang dapat mengabulkan doaku saat ini juga. Tolong bawa aku ke masa di mana kita pertama kali bertemu. Aku janji akan menyelamatkan jiwanya dan membuatnya bahagia. Aku janji akan lebih memerhatikannya dan tidak membiarkannya sendirian. Aku, aku, AKU—”

—KAU TIDAK DAPAT MENGUBAH APAPUN.

Monyet dungu pun tahu bahwa gelas yang hancur tidak dapat kembali kepada wujud semulanya.

Sama seperti waktu.

Sama seperti kamu.

Kosong, kosong, kosong. Dadaku kosong. Jantungku berhenti berdetak seakan ia telah dicabut paksa. Sakit sekali hingga aku tak bisa rasakan apapun lagi.

Seolah tanah di bawahku hancur dan pilar penopang angkasa runtuh. Aku merasakan nyawaku meluruh.