Sunyi senyap memenuhi atmosfir ruang tamu rumah tempat mereka duduk. Detak jam dinding yang beradu dengan dentingan sendok dalam gelas menjadi orkestra yang mengalun mengisi kecanggungan antara mereka.
Atma terdiam sambil menatap cangkir gelas berisi teh yang perlahan mendingin. Sementara Angga menatapnya dengan senyum tipis—yang ironisnya mengintimidasi Atma dan membuat suasananya semakin canggung.
Atma menghela nafas panjang, berinisiatif memecah keheningan.
“Waktu pemakaman Radev berlangsung, saya nggak tahu mau bilang apa saat melihat wajah kalian. Kalila, tante Riana, kak Angga. Saya tahu kalian marah karena kepergian Radev—dan saya nggak punya muka untuk bertemu kalian lagi, saya sudah gagal menjaga Radev, saya—”
“Udah, Atma. Nggak usah dilanjutin.”
Atma tertegun. Angga masih dengan senyumnya menatap Atma. Lalu berubah menjadi dengus kesal. Ia mengubah posisi duduknya menjadi lebih rileks.
“Aduuuh, sebenarnya gue ke sini mau nganterin makanan titipan mama. Katanya beliau kangen sama lu. Bukan mau dengar permintaan maaf dan penyesalan lu, tau.” Ucapnya jengah sambil mengeluarkan paper bag.
Atma mengenyit ragu, Mereka… mereka sudah lupa dengan kejadian itu, kah?.
“Kami nggak marah karena lu yang tiba-tiba putus kontak dan pindah rumah tanpa pamit setelah kejadian itu, atau karena lu nggak bisa jaga Radev dengan baik. Omong-omong, maaf ya udah nyari alamat lu tanpa izin, soalnya gue cuma inget id line sama nomor telepon lu. Pas dilacak eh ternyata ketemu.” Ucapnya sambil terkekeh.
“Kalian… kalian sudah lupa dengan kejadian 4 tahun lalu?” tanya Atma dengan nada tak percaya.
Kak Angga menyilangkan tangannya, “Enak aja, mana mungkin gue lupa sama kejadian yang merenggut nyawa adik kesayangan gue.”
Sekilas, Atma dapat melihat bibirnya menyunggingkan senyum pedih dan luka.
“Tapi, Atma. Udah empat tahun berlalu sejak kejadian itu, kami semua udah nggak mau sedih-sedih lagi. Karena ya nggak ada gunanya kalau lu ngabisin waktu bertahun-tahun cuma buat muterin bundaran HI yang gak ada tujuan akhirnya.”
Perumpamaan yang aneh, tapi Atma mengerti betul maksudnya.
“Kalila udah lulus SMP, gue baru aja lulus kuliah. Keren gak? Baru tau kan lu. Makanya jangan cut-off orang! Jadi ketinggalan berita banyak, kan.” Ia mengoceh sambil menepuk pundak Atma. Atma memasang wajah kaget.
“Betulan? Seingatku, waktu itu kak Angga sedang struggle buat ujian masuk kuliah. Kalila masih di sekolah dasar… sudah lama sekali, ya…”
“Memang sudah lama banget, lu aja kayaknya yang terjebak di putaran waktu.” Nadanya mengejek, namun terdengar menenangkan di telinga Atma. “Mama makin tua tapi makin cantik, dia juga udah nerima katering dan pesanan rajutan lagi. Kami udah nggak sedih-sedih lagi.”
Melegakan. Ucapan dari Angga bagaikan sihir, meringankan beban yang ada di punggung Atma. Atma menyunggingkan senyum tipis yang membuat Angga juga ikut tersenyum.
“Oh, iya. Lihat nih,” Angga mengeluarkan ponsel dari sakunya, “Pacar gue selama jadi budak tugas kuliah. Dia yang bantu gue nemuin alamat lu. Cakep kan dia?”