tw // suicide , homophobia , bullying
Atma sayangku, pasti kamu akan terkejut setelah mengetahui hal ini. Tapi aku tahu kamu akan dengan lapang dada menerimanya. Karena kamu berlian kuat yang jauh bandingannya dengan kaca rapuh sepertiku.
Atma, mereka selalu memandangku seolah aku makhluk kotor dan menjijikkan, hanya karena aku mencintai kamu dengan sepenuh hatiku. Hanya karena aku menatapmu dengan penuh kasih dan harap pada kedua binarku. Mereka melempariku dengan batu seolah aku iblis tak berhati. Mungkin memang benar aku tidak punya hati, karena ia sudah aku persembahkan seluruhnya kepada kamu.
Maaf karena aku sembunyikan semuanya selama ini. Sudah berlangsung sekitar 2 tahun sejak pertama kali kamu beri kecup di dahiku. Malam itu rasanya seperti pintu surga terbuka dan malaikat-malaikat utusan Tuhan turun ke dunia, namun esoknya aku langsung dilemparkan kepada kekal abadi api neraka. Mereka tahu hubungan kita, mereka tabukan hubungan kita.
Padahal aku dan kamu hanya ingin bersama hingga waktu yang berhitung mundur dalam diri kita berhenti.
Saat itu, mereka hanya lihat wajahku dan tidak mengenali kamu. Aku bersyukur sekali karena kamu tidak harus menanggung semua derita ini. Cukup aku saja yang tersiksa, karena—
—karena di dunia yang penuh kegelapan ini, aku cuma punya kamu. Kalau aku pergi, mungkin kamu bisa cari penggantiku lagi. Tapi kalau kamu pergi, aku tidak akan bisa bertahan hidup di neraka ini lagi.
Maka dari itu, Atma sayangku. Aku ingin menuju surga lebih dulu untuk membangun dunia kita berdua. Maafkan aku yang meninggalkanmu sendri, ya?
Andaikata surga bukan tempat berpulangku. Mari bertemu di tempat di mana tidak ditemukan kenikmatan surga dan kesengsaraan neraka.
Di sana, aku berjanji akan membuka lengan lebar-lebar untuk menyambutmu pulang. Lalu kita akan saling mencintai tanpa kenal lelah dari siang hingga malam.
Sampai saat itu tiba, aku mohon jangan pergi menyusulku lebih dulu. Karena aku sedang buatkan istana di sana untuk menyambut kedatanganmu. Tolong berjanji padaku, ya?
Aku sayang kamu, Atma. Selalu, dan selamanya. Hingga saat ini pun, aku sangat bahagia karena pergi dengan membawa cintamu di atas punggungku.
Radeva Eka Mandala